Call Our Toll-Free Number: 123-444-5555
  • Youtube Video

    Lorem ipsum dolor sit amet, consetetur sadipscing elitr, sed diam nonumy eirmod tempor invidunt ut labore.
    Stet clita kasd gubergren, no sea takimata sanctus est Lorem ipsum dolor sit amet.

    See All Features
  • Image With Text

    Lorem ipsum dolor sit amet, consetetur sadipscing elitr, sed diam nonumy eirmod tempor invidunt ut labore.
    Stet clita kasd gubergren, no sea takimata sanctus est Lorem ipsum dolor sit amet.

    See All Features

24 jam? cukup gak sih?

mahasiswa stres Unej
Mahasiswa Stres.


Buat sahabat-sahabat Universitas Jember yang sedang UAS (ujian akhir semester), saya ingin memberikan motivasi buat kalian, supaya UASnya lancar dan dapat Indeks Prestasi yang diharapkan. Aminn.
Ketika UAS seperti ini, Mungkin pemikiran-pemikiran seperti ini pernah muncul dibenak kalian,
Tugasku kok banyak ya, laporan, tugas akhir, final project, (atau mungkin yang menjadi asisten dosen ada tugas merekap nilai praktikum), kewajiban yang harus dilakukan di organisasi, masih belum pekerjaan yang ada di luar kampus, part time job, membantu pekerjaan yang ada di rumah, rasanya tidak mungkin menyelesaikan ini semua, kenapa seh tugasku kog banyak? Kenapa seh dosen-dosen memberikan tugas yang tidak mungkin q kerjakan? Waktu sehari 24 jam kurang buat ngerjakan semua tugas-tugasku, q gak mungkin nyelesein ini semua, q pusing ya Tuhan, tugas yang ini belum selesai sudah datang lagi tugas yang lain. Hmmmmmmmmmm
Benar tidak, kebanyakan dari kita pasti pernah berfikir seperti itu, iya kan? (“q juga pernah berfikir seperti itu, hehehe”), tapi, coba teman-teman renungkan, sebagai orang yang beragama, kita pasti percaya bahwa Tuhan tidak akan memberikan ujian yang hambanya tidak mungkin melewatinya kan? dalam islam, pertanyaan-pertanyaan seperti ini terjawab dengan sempurna, mari kita simak (renungi dan resapi) pertanyaan dan jawaban yang diberikan dalam Al-Quran berikut ini.
mengapa aku diuji?
Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan dengan hanya mengatakan, "kami telah beriman”, dan mereka tidak diuji?
(QS. Al-Ankabut: 2)
Kenapa ujian seberat ini? Aku tidak sanggup ya Tuhan
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya
(QS. Al-Baqarah: 286)
Tapi aku tidak bisa bertahan?
Dan janganlah kamu berputus asa dari Rahmat Allah, sesungguhnya yang berputus asa dari Rahmat Allah hanya orang yang kafir
(QS. Yusuf: 87)
Bagaimana aku menghadapinya?
Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu
(QS. Al-baqarah 45)
Kepada siapa aku berharap?
Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia, hanya kepadaNya aq bertawakkal
(QS. At Taubah: 129)
Apa yang aku dapatkan dari semua ini?
Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik dari harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka
(QS. At Taubah: 11)
Benar-benar jawaban yang sempurna kan? Aku tidak bermaksud sok alim, tapi ini memang benar adanya, so buat sahabat-sahabat Unej yang sekarang sedang UAS, banyak tugas yang menumpuk, dan banyak kewajiban yang harus cepat-cepat dilaksanakan, tetap semangat dan jangan pernah menyerah, sebagai penutup, coba lihat gambar di bawah ini, semoga termotivasi!
Mahasiswa Universitas Jember
Never Give Up

Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Dari Waktu Ke Waktu

Lomba Blog UNEJ
Harga BBM?
Masyarakat tengah menunggu pengumuman kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Namun perubahan harga BBM berubsidi sebenarnya telah menjadi agenda rutin. Siapapun presiden yang menjabat, kenaikan harga BBM bersubsidi selalu dilakukan, entah itu Soeharto hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, yang membuat perubahan harga BBM bersubsidi itu menjadi momentum yang luar biasa , tak lain adalah nuansa politik yang menyelimutinya.

Mantan Sekretaris Kementerian BUMN yang juga menjadi peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) M. Said Didu menyatakan kenaikan harga BBM bersubsidi adalah sesuatu yang biasa. "Artinya, naik turun BBM biasa saja," ujarnya Senin 16/6/2013. (kompas.com)

Berikut ini adalah perubahan harga BBM bersubsidi, yang dalam hal ini Premium per liter, sejak era Soeharto hingga SBY:

Soeharto
1991: Rp 150 naik jadi Rp 550
1993: Rp 550 naik jadi Rp 700
1998: Rp 700 naik jadi Rp 1.200

BJ Habibie
1998: Rp 1.200 turun ke Rp 1.000

Abdurrahman Wahid
1999: Rp 1.000 turun jadi Rp 600
2000: Rp 600 naik ke Rp 1.150
2001: Rp 1.150 naik ke Rp 1.450

Megawati Soekarnoputri
2002: Rp 1.450 naik jadi Rp 1.550
2003: Rp 1.500 naik jadi Rp 1.810

SBY
2005: Rp 1.810 naik jadi Rp 2.400
2005: Rp 2.400 naik jadi Rp 4.500
2008: Rp 4.500 naik jadi Rp 6.000
2008: Rp 6.000 turun ke Rp 5.500
2008: Rp 5.500 turun ke Rp 5.000
2009: Rp 5.000 turun ke Rp 4.500

Free backlink

Film - Film Inspiratif Indonesia Bag.2

Setelah kemarin kami mempostingkan tentang Film - Film Inspiratif Indonesia Bag.1, nah disini kami akan sajikan lanjutannya. Ok, Check this Out!



7. GARUDA DI DADAKU
Garuda Di Dadaku adalah film keluarga yang bercerita tentang Bayu, seorang anak SD,yang tiggal di perkampungan sesak di Jakarta dan Bayu mempunyai mimpi menjadi seorang pemain bola dan masuk ke Tim Nasional Indonesia. Bayu mempunyai bakat bermain sepak bola dari ayahnya yang dulunya juga adalah seorang pemain sepak bola. Sayangnya, cita-cita Bayu itu ditentang oleh sang kakek yang lebih senang melihat Bayu mengikuti berbagai macam kursus demi masa depannya namun teman dekat bayu yang bernama Heri selalu meyakinkan bahwa Bayu sangat memiliki talenta untuk menjadi pemain bola Nasional dan Heri juga yang selalu mengajak Bayu untuk ikut ke ajang seleksi pemain nasional usia dibawah 13 tahun.
Ternyata kakek mempunyai alasan yang kuat kenapa ia melarang Bayu bermain bola. Ayah Bayu yang dulunya seorang pemain bola mengalami cedera berat pada waktu itu sehingga tidak bisa bermain bola dan akhirnya hanya menjadi seorang supir taksi. Kakek Bayu tidak mau nasib yang sama menimpa Bayu cucu yang ia sayangi. Bayu yang benar-benar mencintai sepak bola tidak mau begitu saja menuruti apa kata kakeknya.

Masalah pun muncul ketika Bayu membohongi kakeknya yang mengira bahwa ia berbakat menjadi seorang pelukis. Tidak diduga kakek datang dan melihat Bayu di sekolah sepak bolanya dan tiba-tiba ia terserang penyakit jantung dan dilarikan ke rumah sakit. Bayu merasa bersalah dan menyesal telah membohongi kakeknya dan ia memutuskan untuk berhenti bermain bola.

Kenapa film ini disebut dengan Garuda? Karena Garuda adalah lambang Negara kita. Dengan logo garuda yang disemangatkan dalam seragam nasional pemain sepakbola anak-anak u-13 membuat Bayu (yang dimainkan oleh Emir Mahira) yang berusaha mati-matian untuk menjadi pemain sepak bola handal dan dalam film Garuda di Dadaku ini kita dapat melihat dan merasakan aroma perjuangan sang Bayu anak yang masih duduk di bangku kelas 6.

Dirilisnya film Garuda di Dadaku menunjukan rasa nasionalisme melalui film genre olahraga dan nasionalisme. Film garuda di Dadaku diterbitkan untuk sebuah misi untuk dunia sepak bola Indonesia agar lebih maju. Disutradarai oleh Ifa Isfansyah, sedangkan pemeran utamanya Aldo Tanzani, Emir Mahira, Marsha Aruan dipilih hasil penyaringan casting dan aktor professional lainnya. Background pengambilan film Garuda di Dadaku di beberapa tempat di Jakarta, seperti staduyn Utama Bung Karno, dan komplek Istana Olahraga Senayan, dan perkampungan di Jakarta.

Intinya jenis film Garuda di Dadaku, mengisahkan bagaimana perjalanan seseorang menjadi seorang juara sejati melalui proses yang panjang dan melelahkan untuk menjadi seorang juara sejati. Sang juara sejati tak akan menyepelekan lawan, dan tak mudah terpengaruh.

Melalui film Garuda di Dadaku ini rasa nasionalisme hadir pada harapan Bayu kecil dengan timnya yang bermimpi kelak dapat bermain di stadion Bung Karno dan mereka dapat menjadi kebanggaan rakyat Indonesia. Walaupun tujuan utama film ini adalah untuk menhibur namun ternyata Film Garuda di Dadaku memiliki maksna yang besar terhadap kemajuan sepak bola Indonesia.


  
8. TANAH AIR BETA
Ketika Timor-Timur berpisah dari Indonesia, perpisahan juga terjadi di antara kakak-beradik yang saling menyayangi. Mereka hidup dalam kondisi dan lokasi yang berbeda oleh sebab yang tidak mereka mengerti. Merry (10) tinggal berdua dengan ibunya, Tatiana di sebuah kamp pengungsian di Kupang, NTT. Sementara kakak laki-lakinya, Mauro (12) tinggal bersama pamannya di Timor Leste.

Tatiana dan Merry hidup di kamp bersama ratusan ribu pengungsi lainnya, di antaranya Abubakar, seorang keturunan Arab yang sudah turun-temurun hidup dan tinggal di Timor-Timur. Tatiana mengajar di sekolah darurat. Merry juga bersekolah di tempat itu bersama Carlo, seorang anak laki-laki yang sangat jail dan suka menggangu Merry—itu dikarenakan Carlo ingin sekali mempunyai seorang adik dan merasakan kembali cinta kasih keluarga.

Kehidupan yang sangat berat di kamp pengugsian dan di tengah ketidakpastian akan keberadaan anak laki-lakinya, tidak membuat Tatiana menjadi lemah. Kerinduan Merry akan kakaknya dan penderitaan yang begitu mendalam dari sang ibu, membuat Merry menjadi anak perempuan yang cerdas dan nekad.

Secercah harapan mekar kala suatu hari, dari seorang relawan, Tatiana mendapatkan informasi adanya kemungkinan ia bertemu kembali dengan anak laki-lakinya itu. Apakah harapan ini dapat terwujud? Dapatkah Merry berkumpul kembali dengan kakaknya, Mauro?
  



9. RUMAH TANPA JENDELA 
Rara (Dwi Tasya), 8 tahun, sangat ingin punya jendela di rumahnya yang kecil berdinding tripleks bekas di sebuah perkampungan kumuh tempat para pemulung tinggal di Menteng Pulo, Jakarta. Si Mbok (Ingrid Widjanarko), nenek Rara yang sakit-sakitan dan ayahnya Raga (Rafi Ahmad) yang berjualan ikan hias dan tukang sol sepatu, tidak cukup punya uang untuk membuat atau membeli bahkan hanya selembar daun jendela dan kusennya. Rara juga punya Bude, Asih (Yuni Shara).

Bersama teman-temannya sesama anak pemulung, sebelum ngamen atau ngojek payung jika hari sedang hujan, Rara bersekolah khusus untuk anak jalanan. Bu Alya (Varissa Camelia) satu-satunya pengajar sukarelawan yang membimbing dan membina anak-anak pemulung tersebut.

Di perumahan mewah Jakarta, Aldo (Emir Mahira), 11 tahun, yang sedikit terbelakang, merindukan seorang teman di tengah keluarganya yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Ia anak bungsu dari pengusaha sukses, Pak Syahri (Aswin Fabanyo) dan Nyonya Ratna (Alicia Djohar). Kehadiran Nek Aisyah (Aty Cancer), ibu Pak Syahri, menjadi penghiburan untuk Aldo. Suatu hari, Aldo berkenalan dengan Rara yang saat itu tengah mengojek payung dan terserempet mobil Aldo. Sejak itu mereka menjadi akrab.

Di rumah Aldo semua panik karena karena Aldo minggat dari rumah, kecewa dengan sikap kakaknya yang terang-terangan mengatakan merasa malu memiliki adik seperti dirinya. Berbagai peristiwa yang mengejutkan dan menyentuh bergulir bersama kisah persahabatan Rara dan Aldo.


10. NEGERI 5 MENARA
Pertengahan tahun 1988 Alif akan lulus SMP. Bersama sahabatnya, Randai, mereka berharap bisa masuk SMA terkenal di Bukit Tinggi, lalu lanjut kuliah di ITB. Namun Amaknya menginginkan Alif untuk masuk ke Pondok Madani, sebuah pesantren di sudut Ponorogo, Jawa Timur. Alif memberontak tapi akhirnya memenuhi pinta orangtuanya walau setengah hati.

Ketika tiba di Pondok Madani, dilihatnya tempat itu 'kampungan' dan mirip penjara karena peraturan yang ketat dan keharusan ikut kelas adaptasi setahun. Alif sering menyendiri. Seiring berjalannya waktu, Alif mulai bersahabat dengan teman-teman satu kamarnya, yaitu Baso dari Gowa, Atang dari Bandung, Raja dari Medan, Said dari Surabaya, dan Dulmajid dari Madura. Mereka berenam selalu berkumpul di menara masjid dan menamakan diri mereka Sahibul Menara alias para pemilik menara.

Suasana kian menghangat di kelas pertama, saat Alif disentak oleh teriakan penuh semangat dari sang Ustadz: Man Jadda Wajada! Arti kata itu adalah: Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. "Mantra" ini lah yang menambah motivasi keenam anak itu bermimpi. Suatu sore, para Sahibul menara menatap awan dan bercita-cita untuk keluar negeri. Alif melihat benua Amerika di awan. Raja menata Eropa, Atang menggambar Afrika. Dulmajid dan Said melihat Indonesia. Sedang Baso, Asia. Man Jadda Wajada Alif bergeser: dari niat untuk keluar dari pondok Madani, menjadi bersungguh-sungguh mengejar mimpi.



11. 5CM
Genta, Arial, Zafran, Riani, dan Ian merasa “jenuh” dengan persahabatan mereka dan memutuskan untuk berpisah, tidak saling berkomunikasi satu sama lain selama tiga bulan lamanya. Selama tiga bulan mereka bertemu kembali dan merayakan pertemuan mereka dengan sebuah perjalanan penuh impian dan tantangan. Sebuah perjalanan hati demi  mengibarkan sang saka merah putih di puncak tertinggi Jawa pada tanggal 17 Agustus.
  








HISTORY OF JEMBER UNIVERSITY

Universitas Jember
Patung Trium Virat Universitas Jember.
Universitas Jember merupakan sebuah perguruan tinggi negeri yang terletak di kota Jember, sebuah kota berhawa tropis di bagian tenggara Propinsi Jawa Timur. Kampus UNEJ berada di kawasan hijau yang ramah lingkungan sehingga memberikan ketenangan dalam melaksanakan kegiatan akademik. Kota Jember sendiri berada di antara Kawah Ijen dan Gunung Bromo serta dikelilingi perkebunan yang sebagian besar ditanami tembakau, kopi, coklat dan tebu.
Terdapat dua mayoritas penduduk yang tinggal di Jember, yaitu komunitas Jawa dan Madura yang masing-masing mempunyai keunikan budaya. Dua karakteristik etnik dan budaya yang dipadu dengan kawasan perkebunan tersebut membentuk kombinasi yang indah dari sisi pemandangan alam dan warisan budaya. Di tempat inilah UNEJ terus maju dan berkembang.
Cikal bakal Universitas Jember berasal dari gagasan dr. R. Achmad bersama-sama dengan R. Th. Soengedi dan R. M. Soerachman yang bercita-cita mendirikan perguruan tinggi di Jember. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut pada tanggal 1 April 1957, ketiganya membentuk panitia yang diberi nama Panitia Triumviraat dengan komposisi Ketua dr. R. Achmad; Penulis R. Th. Soengedi, dan Bendahara R. M. Soerachman.
Selanjutnya Panitia Triumviraat ini pada tanggal 5 Oktober 1957 membentuk yayasan dengan nama Yayasan Universitas Tawang Alun (disahkan dengan Akta Notaris tanggal 8 Maret 1958 Nomor 13 di Jember). Yayasan Universitas Tawang Alun inilah yang kemudian mendirikan universitas swasta di Jember dengan nama Universitas Tawang Alun yang kemudian disingkat UNITA. Dalam perjalanannya, ketiga tokoh tersebut mendapatkan dukungan penuh Bupati Jember saat itu, R. Soedjarwo.
Pada tahun 1959 tepatnya pada tanggal 26 Januari 1959, R. Soedjarwo diangkat sebagai Ketua Yayasan Unita. Secara kebetulan, pada periode 1957 sampai dengan 1964, R. Soedjarwo juga menjabat sebagai Ketua DPRD Swatantra. Boleh dikata, sebagai Bupati Jember waktu itu, R. Soedjarwo mempunyai perhatian cukup besar terhadap pembangunan pendidikan di Kabupaten Jember. Mengingat bahwa anggaran pemerintah saat itu masih sangat terbatas. Maka, untuk menunjang bidang pendidikan, R. Soedjarwo bersama tokoh-tokoh masyarakat kemudian mendirikan Yayasan Pendidikan Kabupaten Jember (YPKD) dengan menggali dana dari masyarakat untuk menunjang dunia pendidikan. Salah satu cara yang unik dalam mengumpulkan dana, R. Soedjarwo minta sumbangan dari masyarakat Kabupaten Jember berupa buah kelapa dan botol kosong untuk dijual. Selanjutnya dananya dipergunakan untuk membantu Unita dan sekolah-sekolah yang lain. Untuk membesarkan Unita, R. Soedjarwo kemudian membantu mendirikan gedung kampus Unita yang ada di jalan PB Sudirman seluas 656 meter persegi. Gedung tersebut dibangun di atas tanah seluas 2.160 meter persegi dengan biaya pembangunan sebesar Rp 23.243,66. Dana tersebut bersumber dari dana YPKD. Sejak tahun 1960, Unita semakin berkembang. Jumlah fakultas, satu demi satu bertambah. Meliputi, Fakultas Sosial Politik, Fakultas Kedokteran, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan dan Fakultas Pertanian. Seiring perjalanan waktu, untuk menambah prasarana kampus, Unita mengundang USAID untuk mendapatkan sumbangan berupa alat laboratorium dan buku-buku.
Kampus Universitas Jember di Tegal Boto, sebenarnya sudah diimpikan R. Soedjarwo. Saat itu tahun 1960, Tegal Boto masih berupa daerah terpencil bagaikan “pulau mati” dan tidak bisa dijangkau transportasi darat. Untuk membuka daerah tersebut, R. Soedjarwo mulai membangun jembatan di jalan PB Sudirman arah ke Jalan Mastrip pada 1961. “Jembatan tersebut baru selesai tahun 1976 dan hingga kini dikenal sebagai jembatan Jarwo. Pada awal 1961 Yayasan Unita mulai merintis upaya agar Unita bisa berstatus negeri. Untuk itu, R. Soedjarwo mengadakan koordinasi dengan segenap pengurus yayasan, pengurus Unita, tokoh-tokoh daerah, termasuk anggota DPRD. Sidang DPRD pada 19 April 1961 akhirnya menghasilkan keputusan menetapkan resolusi. Resolusi tersebut isinya menyangkut beberapa hal. Pertama, tentang memperkuat ide pembukaan Fakultas Kedokteran, kedua mengirim delegasi yang terdiri dari Ketua DPRD menghadap Pemerintah Pusat, dan ketiga Universitas Tawang Alun agar diakui sebagai Universitas Negeri. Langkah selanjutnya, Yayasan Unita mengirim beberapa delegasi untuk menghadap Menteri PTIP waktu itu dipegang Prof Mr Iwa Kusumasumantri. Hasilnya memberikan harapan baru, pemerintah akan menegerikan Unita bersama-sama dengan Unibraw pada 20 Mei 1962.

Website Universitas Jember
Website Universitas Jember

Untuk menyongsong rencana tersebut, Yayasan Unita kemudian mengirim kembali delegasinya pada 14-24 Maret 1962. Namun di luar dugaan, telah terjadi pergantian Menteri PTIP, yaitu Prof Dr. Ir. Thoyib Hadiwidjaja yang mempunyai kebijakan baru bahwa tidak membenarkan penegerian dua universitas dalam satu provinsi secara bersamaan. Akibat penundaan penegerian Unita tersebut, Unita akhirnya diintegrasikan ke Universitas Brawidjaya Malang berdasarkan SK Menteri PTIP No.1, tertanggal 5 Januari 1963. Hal ini menimbulkan keresahan bagi masyarakat Jember dan mahasiswa Unita khususnya. Melihat hambatan tersebut R. Soedjarwo terus berusaha dengan mengirim delegasi ke Jakarta hingga mendapat dukungan dari DPRD untuk mendesak pemerintah pusat untuk menegerikan Unita menjadi universitas negeri secepatnya. Jerih payah R. Soedjarwo dengan dibantu pihak-pihak terkait, akhirnya membuahkan hasil dengan terbitnya SK Menteri PTIP No 153 tahun 1964 tertanggal 9 November 1964 tentang Didirikannya Sebuah Universitas Negeri Jember.
Pada awal berdirinya pada tahun 1964, Universitas Negeri Djember yang disingkat UNED, memiliki lima fakultas, terdiri dari Fakultas Hukum di Jember, dengan cabangnya di Banyuwangi, Fakultas Sosial dan Politik dan Fakultas Pertanian di Jember, Fakultas Ekonomi dan Fakultas Sastra di Banyuwangi. Dengan rektor pertama dijabat oleh dr. R. Achmad.

Kegiatan Universitas Jember
Kegiatan Universitas
 Kepemimpinan dr. R. Achmad dilanjutkan oleh Letkol Soedi Harjohoedojo (1967-1969), Letkol Soetardjo, SH (1969-1978) dan Kolonel Drs. H.R. Warsito (1978-1986). Baru semenjak tahun 1986, rektor Universitas Jember dijabat oleh sivitas akademikanya sendiri, yakni oleh Prof. Dr. Simanhadi Widyaprakosa (1986-1995), Prof. Dr. Kabul Santoso, M.S. (1995-2003), Dr. Ir. T. Sutikto, M.Sc. (2003-2012), dan Moch. Hasan, M. Sc., Ph.D (2012 - sampai kini).

Kunjungi juga artikel yang lain :
Potret Universitas Jember
Lomba Blog Unej
FKIP Universitas Jember
Fasilitas Umum Universitas Jember
History of Jember University
Catatan Wajib Maba Unej
Sosok Inspiratif Universitas Jember
SBMPTN 2013
UM Universitas Jember

Film - Film Inspiratif Indonesia Bag.1

Apakah yang sahabat-sahabat Universitas Jember ketahui tentang film -film Indonesia? Jika kalian menjawab tentang film horornya, kami tentu akan menjawab bukan, kami tidak akan membahasnya. Kenapa bukan? Ah, kalian tentu bisa menjawabnya, hehe. Kembali ke topik, ya film Indonesia, selain maraknya film - film horor yang banyak diproduksi dengan judul - judul unik dan kreatifnya, ternyata banyak juga lho film - film Indonesia yang mempunyai cerita yang menarik dan inspiratif. Di sini ada beberapa daftar film karya Anak Bangsa yang layak untuk ditonton dan bahkan memberikan inspirasi bagi Anak Bangsa. Sambil menikmati liburan bagi yang belum nonton dapat menonton film - film dibawah ini dan bagi yang sudah pernah menonton film - film dibawah ini tak ada salahnya untuk nonton ulang, hehe. Recomended. Check this Out!

1. JAYDEN'S CHOIR (SIMFONI LUAR BIASA)
Jayden Valarao, seorang musisi dengan mimpi besar menjadi seorang bintang rock, hidup dengan bebas tanpa tujuan yang pasti. Satu malam setelah perkelahian sengit di salah satu bar di Manila, Jayden pulang dan mendapati barang-barangnya sudah teronggok di depan rumahnya karena tak mampu membayar sewa. Karena tak punya tujuan, akhirnya dia memohon kepada Penelope Valarao, bibinya yang funky dan berjiwa muda di usianya yang sudah menginjak 50 tahun, agar dapat tinggal di rumahnya. Penelope mengijinkan Jayden tinggal semalam, dengan janji bahwa dia akan segera menemukan tempat untuk ditinggali. Sang bibi pun menyarankan agar Jayden menemui ibunya, yang tinggal di Indonesia sejak sang ayah meninggal beberapa tahun yang lalu. Tanpa pilihan lain, akhirnya Jayden setuju untuk pergi ke Indonesia sembari menunggu demonya diterima perusahaan rekaman yang akan menjadikannya seorang superstar.

Sesampainya di Jakarta, Jayden bertemu ibu yang sudah lama tak ditemuinya, Marlina Anasazar. Sang ibu ternyata sudah punya rencana untuk Jayden, yakni untuk membantunya mengajar musik di sekolah musik yang dikelolanya. Tanpa dinyana, ternyata Jayden harus mengajar mereka yang berkebutuhan khusus, dengan masalah mental dan kecerdasan di bawah rata-rata. Di sinilah Jayden diuji, apakah dirinya akan terus mengajar anak-anak luar biasa ini, ataukah mengejar mimpinya menjadi seorang bintang rock.

Selain anak-anak ini, Jayden pun bertemu banyak orang yang membuatnya berpikir panjang tentang hidup bebas yang tak pantas dan tak berguna, termasuk Laras , seorang instruktur dan terapis di sekolah ini, Ibu Rinjani, Pak Dimas yang ketus, dan banyak karakter lainnya. Apakah Jayden akan terus mengajar anak-anak ini? Ataukah dia akan terus mengejar impiannya menjadi seorang rockstar?

Cerita yang mengajarkan banyak orang tentang arti mimpi dan kehidupan ini terinspirasi dari sebuah artikel yang dimuat di surat kabar. Artikel ini menceritakan sebuah kelompok orkestra yang terdiri atas anak-anak berkebutuhan khusus dari sebuah sekolah musik di Beijing, China. Anak-anak ini sangat suka belajar musik untuk merangsang mental mereka. Setelah berbulan-bulan berlatih dengan keras, mereka akhirnya bisa tampil di depan ribuan penonton. Kesuksesan mereka tak hanya membuahkan kepercayaan diri lebih bagi mereka, namun juga inspirasi yang mendalam bagi para penonton. Terinspirasi oleh foto sang konduktor, seorang bocah yang menderita down-syndrome, film ini tak bercerita tentang prestasi anak-anak normal, namun justru mereka-mereka yang luar biasa!

2. RINDU PURNAMA
Ditengah-tengah kemegahan dan kemewahan kota Jakarta, hiduplah seorang gadis bernama Rindu, seorang anak jalanan yang tinggal di rumah singgah bersama dengan anak-anak yang senasib dengannya. Di tempat tersebut turut pula hadir Sarah, seorang wanita yang mengasuh mereka.

Suatu hari Rindu tertabrak oleh Pak Surya, seorang pengusaha yang gila kerja dan masih sendiri. Pada kejadian tersebut Rindu mengalami amnesia, dan akhirnya oleh Pak Pur, supir pak Surya, ia di tempatkan sementara di rumah pengusaha tersebut.

Keberadaan Rindu di rumah Pak Surya tidak disukainya, meskipun ia sedang disibukkan dengan proyek terbarunya bersama Monik, anak pemilik perusahaan tempat ia bekerja, Pak Surya menyempatkan diri untuk menyembuhkan Rindu agar bisa cepat pergi dari rumahnya.

Rindu tahu bahwa keberadaannya tidak disukai Pak Surya dan memutuskan untuk pergi sendiri. Pak Surya pun panik ketika Rindu diketahuinya menghilang dari hadapannya dan sadar bahwa keberadaan Rindu ternyata memberikan kenangan yang mendalam. Pak Surya berusaha menemukan Rindu dengan berbagai cara.

Sampai akhirnya ia bertemu dengan Sarah, yang juga sedang sibuk mencari keberadaan Rindu bersama anak-anak sanggar lainnya, dan mereka pun memutuskan untuk mencari bersama-sama. Dan ternyata, Rindu justru kembali ke sanggar dengan sendirinya setelah pulih dari amnesia-nya.

Kehadiran Rindu kembali ke rumah singgah disambut dengan gembira. Mereka pun merayakannya dengan acara syukuran kecil-kecilan. Tapi kegembiraan mereka kembali terusik. Ternyata proyek yang sedang dijalankan oleh Pak Surya bersama dengan Monik bertempat di pemukiman rumah singgah tersebut dan akan segera menggusurnya.

Keadaan tersebut membuat Pak Surya dilema, antara memilih Rindu, anak-anak jalanan, dan rumah singgah itu atau karirnya yang akan semakin melesat beserta Monik yang mencintainya. Pak Surya harus segera memutuskan dengan cepat pilihannya tersebut.

Tak perlu meragukan lagi film buah karya Mathias Muchus ini. Dikenal sebagai aktor lawas, lewat film yang kali pertama ia sutradarai ini Muchus mampu menunjukkan kepiawaiannya dibelakang kamera.

Dengan jalan cerita yang sederhana ia mampu mengemas film produksi Mizan Productions ini dengan berbagai adegan yang menyentuh bahkan menyentil penontonnya. Seperti lewat berbagai adegan kehidupan anak jalanan dengan kesederhanaan sekaligus keterbatasan yang digambarkan oleh anak-anak sanggar. Serta kehidupan yang kontras dari adegan tersebut, sebuah kemewahan dan keangkuhan seorang yang hidup mapan lewat peran Titi Sjuman sebagai Monik.

Tanpa menggurui, film ini juga akan menyadarkan Anda dengan aktivitas sosial ala anak-anak jalanan itu sendiri, bagaimana cara mereka berteman, bermain, bahkan mencari uang untuk sesuap nasi tanpa melupakan untuk saling berbagi.

Tidak terlepas juga termasuk pesan yang menggambarkan bahwa kekuasaan bukanlah suatu hal yang bisa melakukan segalanya. Bahwa hati nurani adalah pemenangnya.



3. KING
 Nia Zulkarnaen dan suaminya, Ari Sihasale mengangkat tema King dan Bulutangkis ke layar lebar. Meski banyak figur pebulutangkis nasional yang tak kalah hebat dengan Liem Swie King, namun Karisma sang legendaris yang dikenal memiliki smash “King” yang mematikan seolah tak lapuk oleh zaman. Justru karisma “King” semakin mamancar. Ini terbukti dengan di usungnya cerita King dan olah raga bulu tangkis ke layar lebar.

Menurut Nia, film berjudul ”King” yang mengambil tema olahraga bulutangkis, bertujuan untuk lebih memasyarakatkan kembali olah raga bulutangkis di Indonesia. Kita merasa bahwa bulutangkis adalah salah satu cabang olahraga kebanggaan Indonesia yang sering mengharumkan nama bangsa di kancah internasional, dimana bagi Indonesia tradisi emas di Olimpiade itu masih dihasilkan dari cabang olahraga bulutangkis.

Film ini juga dimaksudkan untuk memperkenalkan keindahan Indonesia kepada dunia internasional. Itulah sebabnya kita melakukan shooting di daerah-daerah, seperti di Kawah Ijen, Wonosobo, Bondowoso dan Situbondo, karena ini adalah sebuah film tentang olahraga bulutangkis tetapi settingnya adalah daerah, apalagi memang sebuah pertandingan bulutangkis itu tidak harus selalu dilakukan didalam ruangan.


4. DENIAS, SENANDUNG DI ATAS AWAN
Film ini menceritakan tentang perjuangan seorang anak pedalaman Papua yang bernama Denias untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Seluruh setting lokasi dilakukan di Pulau Cendrawasih ini. Cerita dalam film ini merupakan adaptasi dari kisah nyata seorang anak Papua yang bernama Janias. 

Sebuah film yang harus ditonton oleh meraka yang mengaku peduli dengan dunia pendidikan di Indonesia. Sebuah film yang membuka pandangan kita tentang betapa pendidikan yang layak di negeri ini masih sangat mahal, masih sangat rumit dan masih banyak diskriminasi-diskriminasi yang tidak masuk akal. Dalam film ini juga dapat kita lihat keindahan Provinsi Papua yang berhasil direkam dengan begitu indahnya.


 5. LASKAR PELANGI
Sebuah adaptasi sinema dari novel fenomenal “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata, yang mengambil setting di akhir tahun 70-an. Hari pertama pembukaan kelas baru di sekolah SD Muhammadyah menjadi sangat menegangkan bagi dua guru luar biasa, Muslimah (Cut Mini) dan Pak Harfan (Ikranagara), serta 9 orang murid yang menunggu di sekolah yang terletak di desa Gantong, Belitong. Sebab kalau tidak mencapai 10 murid yang mendaftar, sekolah akan ditutup. Hari itu, Harun, seorang murid istimewa menyelamatkan mereka. Ke 10 murid yang kemudian diberi nama Laskar Pelangi oleh Bu Muslimah, menjalin kisah yang tak terlupakan.

5 tahun bersama, Bu Mus, Pak Harfan dan ke 10 murid dengan keunikan dan keistimewaannya masing masing, berjuang untuk terus bisa sekolah. Di antara berbagai tantangan berat dan tekanan untuk menyerah, Ikal (Zulfani), Lintang (Ferdian) dan Mahar (Veris Yamarno) dengan bakat dan kecerdasannya muncul sebagai pendorong semangat sekolah mereka.

Di tengah upaya untuk tetap mempertahankan sekolah, mereka kembali harus menghadapi tantangan yang besar. Sanggupkah mereka bertahan menghadapi cobaan demi cobaan?

Film ini dipenuhi kisah tentang kalangan pinggiran, dan kisah perjuangan hidup menggapai mimpi yang mengharukan, serta keindahan persahabatan yang menyelamatkan hidup manusia, dengan latar belakang sebuah pulau indah yang pernah menjadi salah satu pulau terkaya di Indonesia.

http://baqiberbagi.files.wordpress.com/2011/02/sangpemimpi_riu_aj_.jpg6. SANG PEMIMPI

Sang Pemimpi merupakan kelanjutan dari Laskar Pelangi. Film ini bercerita tentang Ikal (Vikri Setiawan) dan saudara sepupunya, Arai (Rendy Ahmad), serta sahabatnya, Jimbron (Azwar Fitrianto), pada usia remaja, dan mengisahkan tentang anak remaja yang mencari identitas diri dan seksualitas pada usia 17 tahun.



Adalah seorang guru bernama Balia (Nugie) yang menjadi sumber inspirasi bagi Ikal, Arai dan Jimbron. Kelas Balia membawa mereka pada keajaiban ilmu pengetahuan dan luasnya kehidupan, tempat yang memberi mereka nafas untuk keluar dari tekanan hidup. Balia membarakan semangat mereka untuk menjelajahi Eropa dan bagian dunia lain untuk mengarungi kehidupan. Namun, pada saat yang sama, mereka harus menghadapi sikap keras Pak Mustar (Landung Simatupang), sang kepala sekolah. Kontras dengan sikap Balia, Pak Mustar adalah seorang guru yang menerapkan cara didik dengan pola hukuman bagi yang lalai.



Problematika yang mereka hadapi tak hanya soal sekolah dan bertahan hidup, tapi juga cinta. Cinta Arai pada Zakiah Nurmala (Maudy Ayunda) menggiringnya menjadi seorang penyanyi dadakan dengan berguru pada Bang Zaitun Jay Widjajanto), seorang pemusik Melayu keliling. Jimbron jatuh hati pada Laksmi, gadis pemurung pekerja pabrik cincau yang tak pernah tersenyum sejak orang tuanya meninggal. Ikal tertarik pada gambar wanita molek dari reklame sebuah film Indonesia di bioskop.



Tetapi, kebimbangan Ikal akan hidup dan masa depan membuatnya patah arang dan berusaha menghapus impiannya bersekolah ke Eropa bersama Arai. Ikal yang dulu seolah memiliki semangat baru, menjadi Ikal yang tenggelam dalam keputusasaan dan menyisakan kekecewaan yang dalam di hati sang ayah yang sangat membanggakan dirinya sejak kecil.



Rasa bersalah terhadap sang ayah membuat Ikal bangkit, dan para pemimpi pun kembali berlari bersama. Satu persatu simpul-simpul kesulitan hidup untuk mencapai mimpi mereka buka. Cita-cita, harapan, dan cinta. Dengan tambahan bekal dari tabungan Jimbron, Ikal dan Arai melanjutkan hidup untuk merajut mimpi. Namun, setelah gelar sarjana diraih, Arai menghilang. Tinggalah Ikal sendirian mengadu nasib sambil mengejar mimpi.

Are You Hipster?


Dalam kesempatan kali ini, saya ingin memposting artikel yang berjudul "Are You Hipster?". Mungkin tema ini agak jauh dengan tema yang diharuskan dalam lomba blog Universitas Jember, namun saya rasa pengetahuan tentang artikel ini penting buat teman-teman mahasiswa Universitas Jember. Selamat membaca :)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua, priyayi dijabarkan sebagai “Orang yang termasuk lapisan masyarakat yang kedudukannya dianggap terhormat.” Dapat pula kita menyebut priyayi sebagai golongan borjuis, golongan yang selalu ada di semua jaman. Mulai dari abad pertengahan saat kaum borjuis melenggang manis di Perancis, hingga di era kolonial-pascakolonial di Indonesia dimana dalam suku Jawa misalnya terdapat stratifikasi antara orang Jawa yang bekerja sebagai pegawai Gubermen adalah priyayi, sedang kaum tani adalah orang biasa.

Sementara sekarang adalah era postmodern yang Baudrillard sebut sebagai masa hiperrealitas dimana mengkonsumsi adalah standar agar manusia disebut priyayi/borjuis (Baudrillard, 2006). Di era hiperrealitas ini muncul golongan priyayi/borjuis baru, mereka adalah kaum hipster, kelas menengah baru yang hidup dalam gelimang kenikmatan borjuis.

Borjuis-Bohemian
Menurut Oxford English Dictionary hipster berarti “a person who follows the latest trends and fashions.” Kaum hipster adalah manusia trendi, mereka mengkonsumsi objek-objek standar borjuis masa kini: Blackberry, iPhone, Instagram, dan berbagai merk terkenal lain. Dan kaum hipster tidak mengkonsumsi dalam rangka guna, melainkan mereka mengkonsumsi tanda. Karena ini adalah hiperrealitas, saat tanda lebih berguna daripada guna. (Baudrillard, 2006). Maka kaum hipster tidak menggunakan Blackberry atas dasar efisiensi perpesanan lebih cepat melalui fitur messengernya. Tapi yang lebih diincar adalah “via facebook for Blackberry” dalam status mereka, karena semua teman mereka menggunakan hal yang sama, dan mereka harus melakukannya juga, demi prestise borjuis.

Are you hipster

Jika di masa lampau borjuis adalah kaum yang berbeda dengan bohemian, maka di masa kini borjuis justru bersatu padu dengan bohemian. Dalam Bobos in Paradise, David Brooks menyebut golongan hipster sebagai Bobo atau borjuis-bohemian, kelas terpelajar masa kini yang hidup dalam kemewahan borjuis, namun dengan pemikiran dan idealisme bohemian. (Brooks, 2000). Bobo sebagai kaum hipster (kita akan menyebutnya sebagai bobo hipster) adalah manusia paling keren era ini. Di Yogyakarta misalnya, sebagai kota multikultural dan kota pelajar, kaum hipster ini menjamur. Mereka lulusan cerdas dari universitas ternama, mereka paham teori-teori kritis dari berbagai pemikir besar. Hal ini menyebabkan para bobo hipster ini kritis dan tajam dalam hal pemikiran, namun mereka hidup dalam gaya hidup borjuis itu sendiri, sesuatu yang tak terbeli manusia kelas bawah.

Sebagai contoh bobo hipster adalah bohemian karena mereka sebagian besar hanya mau mendengarkan musik-musik indie yang dianggap anti kemapanan (bohemian). Namun disisi lain produk-produk musik indie ini elitis dan berharga lumayan, sesuatu yang menjadikan mereka borjuis. David Brooks mengatakan hal ini sebagai aktualisasi diri, eksistensi bagi kaum bobo hipster terpelajar. Membaca Das Kapital milik Marx sampai volume ketiga adalah aktualisasi diri bobo hipster sebagai bohemian, namun mereka sendiri tak pernah rasakan pahitnya jadi kelas pekerja. Justru ramalan kuno Marx mengenai kelas borjuis menggunakan alat produksi yang mereka miliki sebagai penegasan status pembeda dari kelas pekerja, itulah borjuisnya kaum hipster yang membaca Marx sebagai pembeda dari kelas pekerja yang tak membaca Marx. Lebih lanjut Mereka membaca No Logo Naomi Klein sebagai bentuk protes pada sistem kapitalisme, namun tak sadar bahwa No Logo dan banyak buku perlawanan pada sistem kapitalisme sebenarnya adalah buku terlaris dan secara tidak langsung bersifat kapital. (Heath dan Potter, 2004)

Apa yang dipermasalahkan disini? Adalah dualitas kaum borjuis-bohemian hipster ini. Di satu sisi kaki mereka berpijak dalam kekokohan gaya hidup borjuis yang mewah, namun disisi lain kepala mereka berpikir dalam idealisme bohemian. Mereka menjalani kontradiksi, apa yang mereka gaungkan sebagai bentuk perlawanan pada budaya mainstream atau budaya massa justru adalah bentuk elitisme yang membuat perlawanan mereka lebih mahal ketimbang budaya massa. Sikap radikal dan anti-kemapanan mereka justru memapankan hipster dalam borjuasi. Radikal mereka menjual, produk paling menjanjikan bagi kapital yang awalnya mereka lawan dengan sikap bohemian.

Radikal Itu Menjual
Andrew Potter dan Joseph Heath membedah dualitas kaum borjuis-bohemian hipster ini dalam buku mereka The Rebel Sell. Secara gamblang dijabarkan upaya melawan budaya massa dalam bentuk apapun (buku, musik, film, gaya hidup, dll) justru sebenarnya lebih laris dan menjual ketimbang produk budaya massa itu sendiri. Dan berharga lebih mahal. (Potter dan Heath, 2004). Maka kawasan distro dan clothing store menjamur di kawasan Demangan Jogja hadir sebagai bentuk perlawanan pada Nike, Adidas, Gap, dan industri pakaian yang mainstream. Namun sesungguhnya distro ini lebih kapital, harga baju yang mereka jual lebih mahal dan berkesan elitis. Kemudian band-band indie banyak hadir di Yogyakarta, sebagai bentuk perlawanan pada sistem industri musik yang kapital, namun sesungguhnya mereka lebih mahal dan elitis karena produk musiknya dibuat terbatas dan dijual dengan harga lumayan. Konser-konser indie didaulat sebagai budaya tanding pada Dahsyat ataupun Inboxyang mainstream dan mahal, namun mereka yang hadir di konser indie itu sendiri bergaya hidup mahal dan mengkonsumsi benda-benda mahal. Radikal itu menjual, dan kaum bobo hipster memilih radikalisme itu sebagai ajang aktualisasi diri mereka sebagai bohemian yang anti kemapanan, sekaligus menegaskan status borjuis sebagai kaum yang mampu membeli produk elite tersebut.

Sebenarnya kaum bobo hipster ini adalah corong bangsa karena mereka memiliki akses lebih ke dunia pendidikan dan media informasi. Barangkali jika mau, mereka punya banyak kesempatan melahirkan wacana-wacana yang berguna untuk menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa. Kaum bobo dapat memanfaatkan idealisme bohemiannya untuk benar-benar turut serta membela berbagai kepentingan kelas bawah dan tertindas. Karena mereka paham isu-isu kelas bawah tersebut, bobo hipster yang terpelajar pandai menganalisa berbagai data dan fakta. Namun alih-alih ikut turun ke jalan dalam rangka perayaan kelas pekerja dalam May Day, atau melontarkan wacana yang mampu menggugat undang-undang perburuhan agar lebih memihak kelas pekerja, kaum hipster lebih suka berkoar di dunia maya dalam 140 karakter ala Twitter.

Inilah permasalahan sebenarnya dari bobo hipster yang patut kita gugat: mereka enggan turun ke permasalahan yang sebenarnya, radikalisme mereka sebatas wacana. Dan bobo hipster sibuk sendiri dalam dunia mereka yang mewah borjuis sekaligus kritis bohemian. Lama-kelamaan bobo hipster tidak gunakan kekritisan pemikirannya untuk mempertanyakan alasan kenapa mereka bertahan dalam gaya hidup borjuis-bohemiannya. Mereka jadi hipster, yang mengikuti trend dan mode mana yg dianggap paling radikal, dalam rangka mempertahankan status mereka sebagai kaum hipster: kaum priyayi atau borjuis masa kini.

Kunjungi juga artikel yang lain :
Potret Universitas Jember
Lomba Blog Unej
FKIP Universitas Jember
Fasilitas Umum Universitas Jember
History of Jember University
Catatan Wajib Maba Unej
Sosok Inspiratif Universitas Jember
SBMPTN 2013
UM Universitas Jember

SBMPTN 2013

SBMPTN
SBMPTN 2013.
Sekarang musimnya SBMPTN, makanya saya ingin membagikan informasi khusus buat adek2 yang akan melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi khususnya ke Universitas Jember, semoga bermanfaat :)
  1. Untuk informasi umum mengenai SBMPTN dapat dilihat pada laman: http://halo.sbmptn.or.id/knowledgebase.php?category=1
  2. Untuk informasi daftar prodi bisa dilihat di laman http://www.sbmptn.or.id/utama.php?hmenu=17&hitem=1&dikirim=1 
  3. Pendaftaran SBMPTN dilakukan secara online dan tata cara pendaftaran secara lengkap dapat dilihat pada laman http://ujian.sbmptn.or.id/ 
  4. Tata cara pengisian borang pendaftaran ujian tertulis dan keterampilan dapat diunduh (download) dari laman http://download.sbmptn.or.id/ mulai tanggal 30 April 2013.
  5. Pendaftaran online dimulai dari tanggal 13 Mei 2013 pukul 08.00 WIB s.d 7 Juni 2013 pukul 22.00 WIB.
  6. Buat yang pengen tau tentang Universitas Jember beserta Program Studi atau jurusan yang ada di dalamya bisa lihat di website Universitas Jember (UNEJ).

Kunjungi juga artikel yang lain :
Potret Universitas Jember
Lomba Blog Unej
FKIP Universitas Jember
Fasilitas Umum Universitas Jember
History of Jember University
Catatan Wajib Maba Unej
Sosok Inspiratif Universitas Jember
SBMPTN 2013
UM Universitas Jember


About

Contact Details