1. JAYDEN'S CHOIR (SIMFONI LUAR BIASA)
Jayden Valarao,
seorang musisi dengan mimpi besar menjadi seorang bintang rock, hidup
dengan bebas tanpa tujuan yang pasti. Satu malam setelah perkelahian
sengit di salah satu bar di Manila, Jayden pulang dan mendapati
barang-barangnya sudah teronggok di depan rumahnya karena tak mampu
membayar sewa. Karena tak punya tujuan, akhirnya dia memohon kepada
Penelope Valarao, bibinya yang funky dan berjiwa muda di usianya yang
sudah menginjak 50 tahun, agar dapat tinggal di rumahnya. Penelope
mengijinkan Jayden tinggal semalam, dengan janji bahwa dia akan segera
menemukan tempat untuk ditinggali. Sang bibi pun menyarankan agar Jayden
menemui ibunya,
yang tinggal di Indonesia sejak sang ayah meninggal beberapa tahun yang
lalu. Tanpa pilihan lain, akhirnya Jayden setuju untuk pergi ke
Indonesia sembari menunggu demonya diterima perusahaan rekaman yang akan
menjadikannya seorang superstar.
Sesampainya di Jakarta, Jayden
bertemu ibu yang sudah lama tak ditemuinya, Marlina Anasazar. Sang ibu
ternyata sudah punya rencana untuk Jayden, yakni untuk membantunya
mengajar musik di sekolah musik yang dikelolanya. Tanpa dinyana,
ternyata Jayden harus mengajar mereka yang berkebutuhan khusus, dengan
masalah mental dan kecerdasan di bawah rata-rata. Di sinilah Jayden
diuji, apakah dirinya akan terus mengajar anak-anak luar biasa ini,
ataukah mengejar mimpinya menjadi seorang bintang rock.
Selain
anak-anak ini, Jayden pun bertemu banyak orang yang membuatnya berpikir
panjang tentang hidup bebas yang tak pantas dan tak berguna, termasuk
Laras , seorang instruktur dan terapis di sekolah ini, Ibu Rinjani,
Pak Dimas yang ketus, dan banyak karakter lainnya. Apakah Jayden akan
terus mengajar anak-anak ini? Ataukah dia akan terus mengejar impiannya
menjadi seorang rockstar?
Cerita yang mengajarkan banyak orang
tentang arti mimpi dan kehidupan ini terinspirasi dari sebuah artikel
yang dimuat di surat kabar. Artikel ini menceritakan sebuah kelompok
orkestra yang terdiri atas anak-anak berkebutuhan khusus dari sebuah
sekolah musik di Beijing, China. Anak-anak ini sangat suka belajar musik
untuk merangsang mental mereka. Setelah berbulan-bulan berlatih dengan
keras, mereka akhirnya bisa tampil di depan ribuan penonton. Kesuksesan
mereka tak hanya membuahkan kepercayaan diri lebih bagi mereka, namun
juga inspirasi yang mendalam bagi para penonton. Terinspirasi oleh foto
sang konduktor, seorang bocah yang menderita down-syndrome, film ini tak
bercerita tentang prestasi anak-anak normal, namun justru mereka-mereka
yang luar biasa!
2. RINDU PURNAMA
Ditengah-tengah kemegahan dan kemewahan kota Jakarta, hiduplah
seorang gadis bernama Rindu, seorang anak jalanan yang tinggal di rumah
singgah bersama dengan anak-anak yang senasib dengannya. Di tempat
tersebut turut pula hadir Sarah, seorang wanita yang mengasuh mereka.
Suatu
hari Rindu tertabrak oleh Pak Surya, seorang pengusaha yang gila kerja
dan masih sendiri. Pada kejadian tersebut Rindu mengalami amnesia, dan
akhirnya oleh Pak Pur, supir pak Surya, ia di tempatkan sementara di
rumah pengusaha tersebut.
Keberadaan Rindu di rumah Pak Surya
tidak disukainya, meskipun ia sedang disibukkan dengan proyek terbarunya
bersama Monik, anak pemilik perusahaan tempat ia bekerja, Pak Surya
menyempatkan diri untuk menyembuhkan Rindu agar bisa cepat pergi dari
rumahnya.
Rindu tahu bahwa keberadaannya tidak disukai Pak Surya
dan memutuskan untuk pergi sendiri. Pak Surya pun panik ketika Rindu
diketahuinya menghilang dari hadapannya dan sadar bahwa keberadaan Rindu
ternyata memberikan kenangan yang mendalam. Pak Surya berusaha
menemukan Rindu dengan berbagai cara.
Sampai akhirnya ia bertemu
dengan Sarah, yang juga sedang sibuk mencari keberadaan Rindu bersama
anak-anak sanggar lainnya, dan mereka pun memutuskan untuk mencari
bersama-sama. Dan ternyata, Rindu justru kembali ke sanggar dengan
sendirinya setelah pulih dari amnesia-nya.
Kehadiran Rindu
kembali ke rumah singgah disambut dengan gembira. Mereka pun
merayakannya dengan acara syukuran kecil-kecilan. Tapi kegembiraan
mereka kembali terusik. Ternyata proyek yang sedang dijalankan oleh Pak
Surya bersama dengan Monik bertempat di pemukiman rumah singgah tersebut
dan akan segera menggusurnya.
Keadaan tersebut membuat Pak Surya
dilema, antara memilih Rindu, anak-anak jalanan, dan rumah singgah itu
atau karirnya yang akan semakin melesat beserta Monik yang mencintainya.
Pak Surya harus segera memutuskan dengan cepat pilihannya tersebut.
Tak
perlu meragukan lagi film buah karya Mathias Muchus ini. Dikenal
sebagai aktor lawas, lewat film yang kali pertama ia sutradarai ini
Muchus mampu menunjukkan kepiawaiannya dibelakang kamera.
Dengan
jalan cerita yang sederhana ia mampu mengemas film produksi Mizan
Productions ini dengan berbagai adegan yang menyentuh bahkan menyentil
penontonnya. Seperti lewat berbagai adegan kehidupan anak jalanan dengan
kesederhanaan sekaligus keterbatasan yang digambarkan oleh anak-anak
sanggar. Serta kehidupan yang kontras dari adegan tersebut, sebuah
kemewahan dan keangkuhan seorang yang hidup mapan lewat peran Titi
Sjuman sebagai Monik.
Tanpa menggurui, film ini juga akan
menyadarkan Anda dengan aktivitas sosial ala anak-anak jalanan itu
sendiri, bagaimana cara mereka berteman, bermain, bahkan mencari uang
untuk sesuap nasi tanpa melupakan untuk saling berbagi.
Tidak
terlepas juga termasuk pesan yang menggambarkan bahwa kekuasaan bukanlah
suatu hal yang bisa melakukan segalanya. Bahwa hati nurani adalah
pemenangnya.
3. KING
Nia Zulkarnaen dan suaminya, Ari Sihasale mengangkat tema King dan
Bulutangkis ke layar lebar. Meski banyak figur pebulutangkis nasional
yang tak kalah hebat dengan Liem Swie King, namun Karisma sang
legendaris yang dikenal memiliki smash “King” yang mematikan seolah tak
lapuk oleh zaman. Justru karisma “King” semakin mamancar. Ini terbukti
dengan di usungnya cerita King dan olah raga bulu tangkis ke layar
lebar.
Menurut Nia, film berjudul ”King” yang mengambil tema
olahraga bulutangkis, bertujuan untuk lebih memasyarakatkan kembali olah
raga bulutangkis di Indonesia. Kita merasa bahwa bulutangkis adalah
salah satu cabang olahraga kebanggaan Indonesia yang sering mengharumkan
nama bangsa di kancah internasional, dimana bagi Indonesia tradisi emas
di Olimpiade itu masih dihasilkan dari cabang olahraga bulutangkis.
Film
ini juga dimaksudkan untuk memperkenalkan keindahan Indonesia kepada
dunia internasional. Itulah sebabnya kita melakukan shooting di
daerah-daerah, seperti di Kawah Ijen, Wonosobo, Bondowoso dan Situbondo,
karena ini adalah sebuah film tentang olahraga bulutangkis tetapi
settingnya adalah daerah, apalagi memang sebuah pertandingan bulutangkis
itu tidak harus selalu dilakukan didalam ruangan.
4. DENIAS, SENANDUNG DI ATAS AWAN
Film ini menceritakan tentang perjuangan
seorang anak pedalaman Papua yang bernama Denias untuk mendapatkan pendidikan
yang layak. Seluruh setting lokasi dilakukan di Pulau Cendrawasih ini. Cerita
dalam film ini merupakan adaptasi dari kisah nyata seorang anak Papua yang
bernama Janias.
Sebuah film yang harus ditonton oleh
meraka yang mengaku peduli dengan dunia pendidikan di Indonesia. Sebuah film yang
membuka pandangan kita tentang betapa pendidikan yang layak di negeri ini masih
sangat mahal, masih sangat rumit dan masih banyak diskriminasi-diskriminasi
yang tidak masuk akal. Dalam film ini juga dapat kita lihat
keindahan Provinsi Papua yang berhasil direkam dengan begitu indahnya.
5. LASKAR PELANGI
Sebuah adaptasi sinema dari novel
fenomenal “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata, yang mengambil setting
di akhir tahun 70-an. Hari pertama pembukaan kelas baru di sekolah SD
Muhammadyah menjadi sangat menegangkan bagi dua guru luar biasa,
Muslimah (Cut Mini) dan Pak Harfan (Ikranagara), serta 9 orang murid
yang menunggu di sekolah yang terletak di desa Gantong, Belitong. Sebab
kalau tidak mencapai 10 murid yang mendaftar, sekolah akan ditutup. Hari itu, Harun, seorang murid istimewa
menyelamatkan mereka. Ke 10 murid yang kemudian diberi nama Laskar
Pelangi oleh Bu Muslimah, menjalin kisah yang tak terlupakan.
5 tahun bersama, Bu Mus, Pak Harfan dan
ke 10 murid dengan keunikan dan keistimewaannya masing masing, berjuang
untuk terus bisa sekolah. Di antara berbagai tantangan berat dan tekanan
untuk menyerah, Ikal (Zulfani), Lintang (Ferdian) dan Mahar (Veris
Yamarno) dengan bakat dan kecerdasannya muncul sebagai pendorong
semangat sekolah mereka.
Di tengah upaya untuk tetap
mempertahankan sekolah, mereka kembali harus menghadapi tantangan yang
besar. Sanggupkah mereka bertahan menghadapi cobaan demi cobaan?
Film ini dipenuhi kisah tentang kalangan
pinggiran, dan kisah perjuangan hidup menggapai mimpi yang mengharukan,
serta keindahan persahabatan yang menyelamatkan hidup manusia, dengan
latar belakang sebuah pulau indah yang pernah menjadi salah satu pulau
terkaya di Indonesia.
6. SANG PEMIMPI
Sang Pemimpi merupakan kelanjutan dari Laskar Pelangi.
Film ini bercerita tentang Ikal (Vikri Setiawan) dan saudara sepupunya,
Arai (Rendy Ahmad), serta sahabatnya, Jimbron (Azwar Fitrianto), pada
usia remaja, dan mengisahkan tentang anak remaja yang mencari identitas
diri dan seksualitas pada usia 17 tahun.
Adalah
seorang guru bernama Balia (Nugie) yang menjadi sumber inspirasi bagi
Ikal, Arai dan Jimbron. Kelas Balia membawa mereka pada keajaiban ilmu
pengetahuan dan luasnya kehidupan, tempat yang memberi mereka nafas
untuk keluar dari tekanan hidup. Balia membarakan semangat mereka untuk
menjelajahi Eropa dan bagian dunia lain untuk mengarungi kehidupan.
Namun, pada saat yang sama, mereka harus menghadapi sikap keras Pak
Mustar (Landung Simatupang), sang kepala sekolah. Kontras dengan sikap
Balia, Pak Mustar adalah seorang guru yang menerapkan cara didik dengan
pola hukuman bagi yang lalai.
Problematika
yang mereka hadapi tak hanya soal sekolah dan bertahan hidup, tapi juga
cinta. Cinta Arai pada Zakiah Nurmala (Maudy Ayunda) menggiringnya
menjadi seorang penyanyi dadakan dengan berguru pada Bang Zaitun Jay
Widjajanto), seorang pemusik Melayu keliling. Jimbron jatuh hati pada
Laksmi, gadis pemurung pekerja pabrik cincau yang tak pernah tersenyum
sejak orang tuanya meninggal. Ikal tertarik pada gambar wanita molek
dari reklame sebuah film Indonesia di bioskop.
Tetapi,
kebimbangan Ikal akan hidup dan masa depan membuatnya patah arang dan
berusaha menghapus impiannya bersekolah ke Eropa bersama Arai. Ikal yang
dulu seolah memiliki semangat baru, menjadi Ikal yang tenggelam dalam
keputusasaan dan menyisakan kekecewaan yang dalam di hati sang ayah yang
sangat membanggakan dirinya sejak kecil.
Rasa
bersalah terhadap sang ayah membuat Ikal bangkit, dan para pemimpi pun
kembali berlari bersama. Satu persatu simpul-simpul kesulitan hidup
untuk mencapai mimpi mereka buka. Cita-cita, harapan, dan cinta. Dengan
tambahan bekal dari tabungan Jimbron, Ikal dan Arai melanjutkan hidup
untuk merajut mimpi. Namun, setelah gelar sarjana diraih, Arai
menghilang. Tinggalah Ikal sendirian mengadu nasib sambil mengejar
mimpi.